Ini Permasalahan Yang Timbul Ketika Anak Dipaksa Sekolah Tidak Sesuai Minatnya, Poin Tiga Jarang Diketahui Orangtua



Orangtua dan anak seharusnya menjadi satu tim yang kompak. Orangtua yang membayar biaya sekolah anak dan anak serius belajar agar prestasinya bagus. Namun demikian, ada banyak realitas ketika orangtua dan anak tidak kompak. Salah satunya ketika kemauan orangtua tidak selaras dengan minat anak. Misalnya; orangtua menginginkan anak sekolah di sekolah umum sedangkan anak menginginkan sekolah yang berbasis agama atau sebaliknya, anak menginginkan sekolah di sekolah umum sedangkan orangtua menginginkan anak sekolah yang berbasis agama. Berikut ini sejumlah permasalahan yang muncul ketika anak terpaksa mengikuti keinginan orangtua yang tidak sesuai dengan minat anak:

1. Sering Membolos
Membolos dalam konteks ini berarti; meninggalkan kelas saat pelajaran tertentu atau meninggalkan sekolah saat semestinya masuk. Ada banyak latar belakang siswa membolos memang, salah satunya adalah karena minat yang kurang dalam belajar. Lebih-lebih karena ada perasaan terpaksa untuk sekolah yang tidak sesuai minatnya, tentulah hal tersebut menjadi sesuatu yang berat. Untuk bersiap berangkat sekolah saja akan terasa malas sehinga harus diingatkan atau diarah-arahkan.


2. Mogok Sekolah
Mogok sekolah bisa saja terjadi bagi mereka yang minatnya sangat tipis dalam menjalani sekolah yang tidak diinginkan. Siswa tanpa alasan yang jelas tidak masuk dalam waktu yang lama. Tentulah hal tersebut sangat rugi bagi siswa sendiri karena ketinggalan banyak pelajaran. Rasa tidak bersemangat akan semakin besar ketika merasa beban pelajaran yang harus dikejar semakin banyak. Jika tidak mendapatkan penanganan yang baik, ujung-ujungnya bisa putus sekolah.


3. Gangguan Psikosomatis
Gangguan psikosomatis merupakan gangguan yang gejalanya dirasakan secara fisik tetapi penyebabnya bersifat psikologis. Ada banyak kasus siswa mengeluhkan kepala pusing, sakit lambung, gangguan nafas dan jantung lalu meminta ijin untuk tidak mengikuti pelajaran. Hanya saja, keluhan-keluhan tersebut hanya terjadi ketika di sekolah. Saat bermain atau di rumah tampak baik-baik adanya. Ada kasus bahkan saking khawatirnya, sekolah bertindak sigap segera membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan tetapi tidak ditemukan penyakitnya. Pemeriksaan medis menunjukkan siswa tersebut baik-baik adanya. Rupanya siswa tersebut sebenarnya tidak ingin bersekolah di tempatnya bersekolah. Jadilah ia terpaksa dan psikologisnya tidak kuat sehingga terjadi gangguan psikosomatis.


4. Melawan Orangtua
Ada anak-anak yang karena tidak kuat lagi menjalani sekolah yang tidak sesuai minatnya lalu melakukan perlawanan pada orangtua. Ada saja permintaan yang diinginkan harus dituruti. Jika tidak dipenuhi, ada saja ancaman yang dilakukan pada orangtua, mulai dari mogok sekolah, berdiam diri di kamar hingga lari dari rumah. Terkesannya hal tersebut sangat ekstrim. Namun demikian, kenyataannya sungguh-sungguh ada dan terjadi. Tentulah para orangtua tidak menginginkan hal yang demikian.


5. Berperilaku Manipulatif
Perilaku manipulatif ini lebih pada menyembunyikan hal yang sebenarnya. Ketika di depan orangtua tampak patuh dan menurut tetapi di belakang orangtua ada tindakan-tindakan yang sebaliknya. Tampak jujur di depan tetapi banyak berbohong ketika di belakang. Hal yang demikian terjadi ketika orangtua memegang otoritas penuh atas keinginan anak sehingga yang terbangun adalah rasa takut bukannya rasa segan atau rasa hormat pada orangtua. Di saat orangtua tidak mengawasi atau otoritasnya sudah lemah, anak mengambil kendali.


Kelima permasalahan tersebut tidak bisa dianggap remeh dan disepelekan. Para orangtua perlu untuk membuka kran komunikasi dengan anak. Walaupun orangtua punya keinginan dan berharap agar anaknya sukses serta tentunya lebih berpengalaman tetapi tidak ada salahnya untuk mengajak anak bertanya terkait minat mereka. Ada dialog antara orangtua dengan anak sehingga masing-masing saling memahami yang diharapkan. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya rasa terpaksa. Ketika anak dilibatkan dalam pemilihan sekolah, anak secara tidak langsung juga akan diminta bertanggung jawab atas pilihan mereka. Bagi orangtua yang baru menyadari bahwa selama ini terlalu memaksakan kehendak pada anak, tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf dan mendengarkan kembali apa yang mereka harapkan serta saling bisa memahami.
BERIKAN KOMENTAR ()